Marilah kita bersama membangunkan Al-Quran dan memuliakan ahli Al-Quran..
السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Thursday, January 12, 2012
Tuesday, December 6, 2011
EEY MADRASA HAMARAA !!
Darul Uloom Zakariyya Lenasia Johannesburg, South Afrika. Mudir : Maulana Shabeer Salojee, Hafiz Bashir Saheb, Syeikhul Hadith Mufti Ridhaul Haq D.B dan Ustaz-ustaz lain. Ada kelas pengajian Alim hingga ke kelas Darul Hadith kos 7 tahun dan pengajian Tahfizul Quran. Ramai pelajar-pelajar Malaysia tamat disana dalam pengajian kitab dan tahfiz. Pelajar-pelajar Malaysia yang tamat khatam Bukhari pada tahun 2006 seramai 10 orang, mereka ialah : Maulana Muhd Hafez Najib, Maulana Mohd Isyraqi, Maulana Abd Latif Subky, Maulana Karmini, Maulana Hamka, Maulana Mohd Zakariyya (pok ya), Maulana Mohd Marwan, Maulana Umar Abd Aziz, Maulana Mohd Ilyas dan Maulana Zaini. Ini Semua pada 2006. May Allah Taala bless them all and choose them to serve the Deen of Allah.
TEMPAT DIMANA ILMU AGAMA DIPEROLEHI,
TEMPAT DIMANA PENGORBANAN DIBERI,
TEMPAT DIMANA AKHLAQ DAN BUDI DISEBAR,
TEMPAT DIMANA MATA DAPAT MEMANDANG APA ERTI HIDUP BERAGAMA,
WAHAI TEMPAT YANG MENJADI SAKSI SEPANJANG ZAMAN MEMBUKA MATA,
WAHAI TEMPAT YANG MENCURAHKAN BAKTI DAN BUDI,
WAHAI TEMPAT YANG MEMBAWA KEATAP YANG TINGGI (MULIA)
WAHAI TEMPAT YANG MENYULUH JALAN YANG GELAP.
Wednesday, November 30, 2011
Info Tentang Pengumpulan Hadis
Alhamdulillah syukur kepada-Nya diatas nikmat-nikmat-Nya kerana telah mengutus seorang Nabi yang membawa rahmat keseluruh alam. Para Ulama adalah pewaris Baginda s.a.w dan mereka telah berkorban untuk menyebarkan agama keseluruh alam.
SEJARAH PENGUMPULAN HADIS
SEJARAH PENGUMPULAN HADIS
1.Tempoh riwayat Hadith dengan Lisan dan Menjaganya dengan Hafalan (abad ke-I H)
Pada tempoh itu (para sahabat dan tabi'in) hadith belum dibukukan melainkan dijaga dalam hafalan, kerana nabi SAW pernah melarang mereka menulis hadith-hadith beliau sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : Janganlah kalian menulisi dariku selain al-Qur'an, dan barangsiapa yang telah menulis sesuatu selain al-Qur'an maka ia harus menghapusnya. Walaupun akhirnya beliau nabi SAW membolehkannya, yaitu pada hari fatah Makkah pada para sahabat : Tulislah apa yang aku sampaikan untuk abu Syah. Dan membolehkan AbduLLAH bin Amr bin Ash untk menulis hadits-hadits darinya.
Ketika nabi SAW wafat para sahabat mengambil langkah untuk menulis al-Qur'an dalam bentuk mushaf dan tidak membukukan hadits nabi SAW melainkan bersungguh-sungguh menyebarkannya dalam bentuk hafalan mereka.
2.Tempoh Penulisan dan Pembukuan Hadith (abad ke-II H)
Apabila Islam telah berkembang,maka telah tersebar para sahabat ke seluruh alam dan sebagian lagi telah wafat, maka mulai terasa perlunya pembukuan hadits. Hal ini menggerakkan khalifah Umar bin Abdul Aziz (99H-101H) memerintahkan para ulama terutama Abubakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm (qadhi Madinah) dan Muhammad bin Muslim bin UbaidiLLAH bin AbduLLAH bin Syihab az Zuhri al-Madani (tokoh ulama Hijaz dan Syam 124 H).
Setelah kedua tokoh ulama ini bangun mengumpul hadith maka mulailah banyak yang mengikutinya mereka seperti Ibnu Juraij (150-H) dan Ibnu Ishaq (151-H) di Makkah; Ma'mar (153-H) di Yaman; al-Auza'i (156-H) di Syam; Malik (179-H), Abu Arubah (156-H) dan Hammah bin Salamah (176-H) di Madinah; Sufyan ats-Tsauri (161-H) di Kufah; AbduLLAH bin Mubarak (181-H) di Khurasan; Husyaim (188-H) di Wasith; Jarir bin abdul Hamid (188-H) di Ray. Mereka tidak hanya menulis hadits-hadits nabi SAW saja, tetapi juga sifat-sifat Rasulullah S.A.W
Kitab-kitab hadits yang masyhur pada masa itu adalah :
(1) Mushannaf oleh Syu'bah bin al-Hajjaj (160-H)
(2) Mushannaf oleh Al-Laits bin Sa'ad (175-H)
(3) Al-Muwaththa' oleh Malik bin Anas al-Madani, Imam Darul Hijrah (179-H).
(4) Mushannaf oleh Sufyan bin Uyainah (198-H)
(5) Al-Musnad oleh asy-Syafi'i (204-H)
(6) Jami al-Imam oleh Abdurrazzaq bin Hammam ash-Shan'ani (211-H)
3. Tempoh pengasingan Hadith dari Perkataan para Shahabat dan Tabi'in (abad ke-III H)
Dipilih hanya hadith-hadith nabi SAW saja, mulailah ulama-ulama menyusun kitab-kitab musnad yang bersih dari fatwa-fatwa, seperti musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Walaupun demikian, masih tercampur dengan hadith-hadith dha'if dan juga hadith maudhu', sehingga pada pertengahan abad-III para ulama membuat kaedah-kaedah dan syarat-syarat dalam pengumpulan hadith shahih. Sehingga muncul idea-idea untuk mengumpulkan hadith-hadith yang sahih-sahih saja yang disusun oleh Imam Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Bardizbah al-Bukhari (Imam Bukhari) dengan karyanya Jami'us Shahih dan disusul oleh muridnya Imam Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (Imam Muslim), sehingga abad ini merupakan abad keemasan bagi ilmu hadith dengan munculnya para ahli hadith terkemuka dan dinamakan kutubus-sittah (6 kumpulan hadits) yang memuat hampir seluruh hadits-hadits yang shahih.
Diantara kitab-kitab hadits yang sudah tersusun waktu itu adalah :
(1) Mushannaf Said bin Manshur (227-H)
(2) Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (235-H)
(3) Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (241-H)
(4) Shahih al-Bukhari (251-H)
(5) Shahih Muslim (261-H)
(6) Sunan Abu Daud (273-H)
(7) Sunan Ibnu Majah (273-H)
(8) Sunan At-Tirmidzi (279-H)
(9) Sunan An-Nasa'i (303-H)
(10) Al-Muntaqa fil Ahkam Ibnu Jarud (307-H)
(11) Tahdzibul Atsar Ibnu Jarir at-Thabari (310-H)
4.Penyempurnaan (Abad-IV H)
Permisahan antara ulama mutaqaddimin (salaf) kaedah mereka adalah berusaha dalam meneliti setiap perawi, menghafal hadith serta menyelidiki sanad hadith itu sampai kepada sahabat dan tabi'in. Sedangkan ulama muta'akhkhirin (khalaf) mereka dalam menyusun hadith adalah dengan memetik dari kitab-kitab yang telah disusun oleh ulama salaf mereka mensyarahnya (memberikan ulasan tentang isi hadits-hadits tersebut).
Kitab-kitab hadits yang termasyhur pada abad ini diantaranya adalah :
(1) Shahih Ibnu Khuzaimah (311-H)
(2) Shahih Abu Awwanah (316-H)
(3) Shahih Ibnu Hibban (354-H)
(4) Mu'jamul Kabir, Ausath dan Shaghir, oleh At-Thabrani (360-H)
(5) Sunan Daraquthni (385-H)
5. Penyusunan Kitab-kitab Hadits (Abad-V H)
mereka menyusunkan hadits-hadith dari segi kandungan dan tajuk-tajuk yang sama. Disamping itu juga menghurai dan meringkaskan kitab-kitab hadith sebelumnya, sehingga muncullah berbagai kitab-kitab hadith hukum seperti :
(1) Sunanul Kubra, al-Baihaqi (384-458 H).
(2) Muntaqal Akhbar, Majduddin al-Harrani (652-H).
(3) Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Ibnu Hajar al-Asqalani (852-H).
Dan berbagai kitab targhib wa tarhib (kitab fadhilat untuk mendatangkan keghairahan untuk beramal dan mengancam bagi yang lalai), seperti :
(1) At-Targhib wa Tarhib, Imam al-Mundziri (656-H).
(2) Riyadhus Shalihin, oleh Imam Nawawi (767-H).
Pada tempoh itu (para sahabat dan tabi'in) hadith belum dibukukan melainkan dijaga dalam hafalan, kerana nabi SAW pernah melarang mereka menulis hadith-hadith beliau sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : Janganlah kalian menulisi dariku selain al-Qur'an, dan barangsiapa yang telah menulis sesuatu selain al-Qur'an maka ia harus menghapusnya. Walaupun akhirnya beliau nabi SAW membolehkannya, yaitu pada hari fatah Makkah pada para sahabat : Tulislah apa yang aku sampaikan untuk abu Syah. Dan membolehkan AbduLLAH bin Amr bin Ash untk menulis hadits-hadits darinya.
Ketika nabi SAW wafat para sahabat mengambil langkah untuk menulis al-Qur'an dalam bentuk mushaf dan tidak membukukan hadits nabi SAW melainkan bersungguh-sungguh menyebarkannya dalam bentuk hafalan mereka.
2.Tempoh Penulisan dan Pembukuan Hadith (abad ke-II H)
Apabila Islam telah berkembang,maka telah tersebar para sahabat ke seluruh alam dan sebagian lagi telah wafat, maka mulai terasa perlunya pembukuan hadits. Hal ini menggerakkan khalifah Umar bin Abdul Aziz (99H-101H) memerintahkan para ulama terutama Abubakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm (qadhi Madinah) dan Muhammad bin Muslim bin UbaidiLLAH bin AbduLLAH bin Syihab az Zuhri al-Madani (tokoh ulama Hijaz dan Syam 124 H).
Setelah kedua tokoh ulama ini bangun mengumpul hadith maka mulailah banyak yang mengikutinya mereka seperti Ibnu Juraij (150-H) dan Ibnu Ishaq (151-H) di Makkah; Ma'mar (153-H) di Yaman; al-Auza'i (156-H) di Syam; Malik (179-H), Abu Arubah (156-H) dan Hammah bin Salamah (176-H) di Madinah; Sufyan ats-Tsauri (161-H) di Kufah; AbduLLAH bin Mubarak (181-H) di Khurasan; Husyaim (188-H) di Wasith; Jarir bin abdul Hamid (188-H) di Ray. Mereka tidak hanya menulis hadits-hadits nabi SAW saja, tetapi juga sifat-sifat Rasulullah S.A.W
Kitab-kitab hadits yang masyhur pada masa itu adalah :
(1) Mushannaf oleh Syu'bah bin al-Hajjaj (160-H)
(2) Mushannaf oleh Al-Laits bin Sa'ad (175-H)
(3) Al-Muwaththa' oleh Malik bin Anas al-Madani, Imam Darul Hijrah (179-H).
(4) Mushannaf oleh Sufyan bin Uyainah (198-H)
(5) Al-Musnad oleh asy-Syafi'i (204-H)
(6) Jami al-Imam oleh Abdurrazzaq bin Hammam ash-Shan'ani (211-H)
3. Tempoh pengasingan Hadith dari Perkataan para Shahabat dan Tabi'in (abad ke-III H)
Dipilih hanya hadith-hadith nabi SAW saja, mulailah ulama-ulama menyusun kitab-kitab musnad yang bersih dari fatwa-fatwa, seperti musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Walaupun demikian, masih tercampur dengan hadith-hadith dha'if dan juga hadith maudhu', sehingga pada pertengahan abad-III para ulama membuat kaedah-kaedah dan syarat-syarat dalam pengumpulan hadith shahih. Sehingga muncul idea-idea untuk mengumpulkan hadith-hadith yang sahih-sahih saja yang disusun oleh Imam Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Bardizbah al-Bukhari (Imam Bukhari) dengan karyanya Jami'us Shahih dan disusul oleh muridnya Imam Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (Imam Muslim), sehingga abad ini merupakan abad keemasan bagi ilmu hadith dengan munculnya para ahli hadith terkemuka dan dinamakan kutubus-sittah (6 kumpulan hadits) yang memuat hampir seluruh hadits-hadits yang shahih.
Diantara kitab-kitab hadits yang sudah tersusun waktu itu adalah :
(1) Mushannaf Said bin Manshur (227-H)
(2) Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (235-H)
(3) Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (241-H)
(4) Shahih al-Bukhari (251-H)
(5) Shahih Muslim (261-H)
(6) Sunan Abu Daud (273-H)
(7) Sunan Ibnu Majah (273-H)
(8) Sunan At-Tirmidzi (279-H)
(9) Sunan An-Nasa'i (303-H)
(10) Al-Muntaqa fil Ahkam Ibnu Jarud (307-H)
(11) Tahdzibul Atsar Ibnu Jarir at-Thabari (310-H)
4.Penyempurnaan (Abad-IV H)
Permisahan antara ulama mutaqaddimin (salaf) kaedah mereka adalah berusaha dalam meneliti setiap perawi, menghafal hadith serta menyelidiki sanad hadith itu sampai kepada sahabat dan tabi'in. Sedangkan ulama muta'akhkhirin (khalaf) mereka dalam menyusun hadith adalah dengan memetik dari kitab-kitab yang telah disusun oleh ulama salaf mereka mensyarahnya (memberikan ulasan tentang isi hadits-hadits tersebut).
Kitab-kitab hadits yang termasyhur pada abad ini diantaranya adalah :
(1) Shahih Ibnu Khuzaimah (311-H)
(2) Shahih Abu Awwanah (316-H)
(3) Shahih Ibnu Hibban (354-H)
(4) Mu'jamul Kabir, Ausath dan Shaghir, oleh At-Thabrani (360-H)
(5) Sunan Daraquthni (385-H)
5. Penyusunan Kitab-kitab Hadits (Abad-V H)
mereka menyusunkan hadits-hadith dari segi kandungan dan tajuk-tajuk yang sama. Disamping itu juga menghurai dan meringkaskan kitab-kitab hadith sebelumnya, sehingga muncullah berbagai kitab-kitab hadith hukum seperti :
(1) Sunanul Kubra, al-Baihaqi (384-458 H).
(2) Muntaqal Akhbar, Majduddin al-Harrani (652-H).
(3) Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Ibnu Hajar al-Asqalani (852-H).
Dan berbagai kitab targhib wa tarhib (kitab fadhilat untuk mendatangkan keghairahan untuk beramal dan mengancam bagi yang lalai), seperti :
(1) At-Targhib wa Tarhib, Imam al-Mundziri (656-H).
(2) Riyadhus Shalihin, oleh Imam Nawawi (767-H).
Saturday, October 1, 2011
Bangunan Asrama dan Dewan Makan yang hampir siap
Dewan makan pelajar dan tempat masak yang hampir siap
Asrama pelajar yang baru siap dan sudah di duduki
Monday, August 29, 2011
Syawal 2011
Friday, August 12, 2011
Aktiviti-aktiviti Pelajar PBTAAJAYA

Pelajar-pelajar sedang berbuka puasa bersama-sama para jemaah Surau Al-Firdaus. Terima kasih kepada Pengerusi Surau Tuan Haji Fathurrahman, T.Pengerusi Cikgu Atiqurahman dan semua AJK-AJK Surau dan tidak lupa juga kepada Haji Kechik (Abg Cik) dan pembantu-pembantunya kerana banyak jasa mereka didalam penyediaan juadah berbuka setiap hari. Antara aktiviti-aktiviti ialah menjadi Imam Solat Teraweh dibeberapa masjid dan surau sekitar Sg Lalang dan Sg Petani. Pelajar-pelajar yang mampu untuk menjadi imam maka mereka akan dikedepankan dan juga berbuka bersama orang ramai. Inilah antara aktiviti sepanjang Ramadhan setiap tahun.
Penuhilah masa di Ramadhan ini dengan ibadat.
Pelajar-pelajar sedang bermuzakarah secara berkumpulan selepas solat zohor pada setiap hari.
Asrama yang Sedang Dibina
Alhamdulillah syukur atas nikmat-nikmat Allah Ta'ala dengan segala kemudahan yang diberi kepada Pusat Bimbingan Tahfiz Al-Quran Aman Jaya. Pada mulanya hendak membina dua tingkat asrama tetapi disebabkan beberapa masalah seperti kewangan yang terhad maka kami telah memutuskan pembinaan untuk satu tingkat sahaja. Tidak Lupa juga kepada penyumbang-penyumbang yang sudi menyumbang untuk meningkatkan lagi pengajian Tahfiz al-Quran dikalangan masyarakat di Malaysia khususnya. Kami mengucapkan jutaan terima kasih kepada semua yang perihatin sama ada dari Dr Ozi juga sepupu saya, Puan Salmah dari Menara Jentayu KL, Surau An-Najah Taman Delima Sg. Petani, Dr Zaini dari Aman Suria Sg. Lalang dan lain-lain. Pembinaan akan diteruskan lagi selepas raya ini untuk dewan makan pelajar-pelajar.
Subscribe to:
Posts (Atom)













